Selasa, 27 November 2018

Mengapa Harus Nasi Kotak



Foto: Ilustrasi

Nasi kotak alias box adalah makanan yang disajikan dalam dus berbentuk kotak. Box berisi nasi lengkap dengan aneka ragam lauk-pauk ini, banyak dipilih karena praktis.

Seorang tuan rumah yang hendak menggelar sebuah acara misalnya, lebih memilih nasi box sebagi sajian untuk para tamu. Selain bisa membuat nyaman para tamu, nasi box ini bisa mencegah antrean. Tuan rumah juga tidak perlu repot memasak atau mencuci piring.

Nasi komplit berbentuk box juga bisa disediakan sesuai dengan jumlah tamu. Sehingga tuan rumah tidak perlu khawatir tamunya yang datang paling akhir, bakal kehabisan sayur atau lauk. Karena semuanya sudah tersaji utuh dalam setiap nasi box.

Nasi box juga bisa dibawa pulang para tamu yang sedang tidak berselera makan. Dalam event tertentu seperti pengajian, biasanya tuan rumah juga menyediakan box berisi jajanan. Mereka hanya perlu menyiapkan tas kresek untuk membantu memudahkan para tamu membawa pulang nasi box dan jajanan tersebut.

Meski memiliki banyak keuntungan, tentu saja nasi box juga ada kelemahannya. Tuan rumah misalnya, harus benar-benar bisa memastikan nasi box itu dipesan dari catering yang tepat.

Selain soal rasa, faktor harga dan bentuk kemasan, jarak lokasi catering biasanya juga dijadikan pertimbangan seseorang untuk memesan nasi box.

Saat ini, ada banyak iklan dari catering pembuat nasi box di paman google. Tapi hingga saat ini, informasi  dari mulut ke mulut jauh lebih bisa dipertanggungjawabkan ketimbang iklan.

Jangan terpacu pada harga murah. Karena nasi box yang disajikan itu merupakan prestise tuan rumah. Mereka tentu tidak ingin membuat para tamu undangannya menjadi kecewa.



Kampoengrasa siap membantu menyediakan nasi box untuk kegiatan arisan, pengajian, pernikahan, khitanan, seminar, dan sebagainya. Anda bisa memilih berbagai menu. Silakan hubungi kami atau datang langsung ke pondok kecil kami, di Perumahan Griyo Taman Asri.

Senin, 26 November 2018

Etalase Makanan Gratis untuk Kaum Dhuafa

Ternyata inovasi bisa muncul dalam bidang apapun, termasuk kebiasaan beramal sholeh. Seperti yang terlihat di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah.

Sebuah etalase kaca menempati teras di depan kios di komplek Universitas Jenderal Soedirman. Dilihat sepintas, etalase ini mirip dagangan makanan. Karena di dalamnya memang berisi makanan dan minuman siap santap. Tapi siapa sangka kalau makanan di etelase itu gratis.

Adalah Slamet Riyadi yang punya ide membuat inovasi sedekah ini. Pengusaha muda ini memang memiliki kebiasaan bersedekah dengan cara berbagi makanan kepada kaum dhuafa dan siapapun yang membutuhkan.

Dikutip dari Liputan6.com, Senin 26 November 2018, Slamet menjalankan kebiasaannya sejak lima tahun lalu. Setiap hari dia membagikan sendiri makanan dan minuman kepada para tukang parkir, tukang becak, pemulung, dan pengemis untuk memberikan makanannya.

Ide Baru

Dalam perkembangannya, Slamet menghadapi beragam kendala saat hendak bersedekah. Contohnya, ketika ada kaum dhuafa yang sangat membutuhkan, Slamet belum menyiapkan makanan dan minuman.

Pengusaha inii juga kerap kewalahan membagi waktu untuk berbagi makanan. Dari kendala itu, muncul ide membuat tempat khusus seperti kotak amal, yang berisi makanan. Dia pun membuat sebuah etalase. Kotak kaca berisi nasi gratis itu dibubuhi tulisan 'Siapapun bisa mengambil, siapapun bisa mengisi'.
Etalase amal nasi gratis di Purwokerto
"Ini biar praktis, selama ini bagi-bagi di jalan.Tapi kendala kalau lagi hujan atau ada kesibukan lain. Makanya saya bikin konsep seperti ini," kata Slamet.

Lambat laun, banyak yang mengetahui etalase amal Slamet. Banyak dhuafa memanfaatkan makanan yang tersedia di etalase tersebut. Keberadaan etalase itu juga mendorong banyak orang untuk ikut bersedekah, mengisi etalase amal tersebut.

Mereka cukup memasukkan makanan maupun minuman ke dalam etalase tersebut. Makanan dan minuman yang tersedia juga tidak pernah tersisa. Semuanya ludes dinikmati kaum dhuafa. Kerennya, para dhuafa tidak perlu canggung untuk mengonsumsi makanan tersebut. Tinggal ambil, tak perlu izin.

Sumber:  https://www.dream.co.id/your-story/inovasi-beramal-etalase-makanan-gratis-untuk-kaum-dhuafa-1811267.html

 Kampoengrasa siap bantu menyediakan nasi bungkus dan nasi box sebagai ladang amal. Mulai harga Rp10.000

Sabtu, 24 November 2018

Nasi Kuning Pelengkap Kegembiraan


 Nasi kuning adalah makanan khas Indonesia. Makanan ini terbuat dari beras yang dimasak bersama dengan kunyit serta santan dan rempah-rempah. Dengan ditambahkannya bumbu-bumbu dan santan, nasi kuning memiliki rasa yang lebih gurih daripada nasi putih. Nasi kuning adalah salah satu variasi dari nasi putih yang sering digunakan sebagai tumpeng. Nasi kuning biasa disajikan dengan bermacam lauk-pauk khas Indonesia.




 Dalam tradisi Di Indonesia warna nasi kuning melambangkan gunung emas yang bermakna kekayaan, kemakmuran serta moral yang luhur. Oleh sebab itu nasi kuning sering disajikan pada peristiwa syukuran dan peristiwa-peristiwa gembira seperti kelahiran, pernikahan dan tunangan. Dalam tradisi Bali, warna kuning adalah salah satu dari empat warna keramat yang ada, disamping putih, merah dan hitam. Nasi kuning oleh karena itu sering dijadikan sajian pada upacara kuningan.



Rabu, 21 November 2018

Cerita Nabi Sulaiman Gelar Syukuran




Kisah ini berawal dari kesuksesan Nabi Sulaiman AS. Nabi Sulaiman AS telah memperoleh bermacam kenikmatan duniawi. Semua tunduk di bawah perintahnya. Manusia, jin, hewan liar, aneka burung, dan bahkan angin. Ketika itu tumbuh rasa bangga di dalam hatinya.

“Tuhanku, perkenankan hamba menyediakan makan untuk semua makhluk hidup setahun penuh,” kata Nabi Sulaiman AS memohon izin kepada Allah SWT.

“Kau tak mungkin sanggup,” jawab Allah SWT.

“Kalau begitu, izinkan hamba barang sehari,” kata Nabi Sulaiman AS.

Ketika mendapat izin sehari dari Allah, Nabi Sulaiman AS memerintahkan pasukannya baik kalangan jin dan manusia untuk menyebar mendata semua makhluk yang ada di muka bumi. Ia juga meminta mereka untuk memasak dan menyiapkan hidangan selama 40 hari.

Kepada angin, Nabi Sulaiman AS memerintahkan agar tidak bergerak selama itu agar tidak menerbangkan makanan yang sedang disiapkannya untuk memberi makan sehari semua makhluk Allah di muka bumi.

Nabi Sulaiman AS meminta pasukannya untuk mengumpulkan makanan hari demi hari di sebuah padang luas. Pasukannya bekerja keras memenuhi permintaan rajanya. Sampai tiba waktunya, makanan yang disiapkan itu menggunung.

“Sulaiman, siapa duluan yang akan kau beri makan?” kata Allah SWT setelah genap 40 hari persiapan hidangan.

“Makhluk-Mu yang di darat dan di laut,” jawab Nabi Sulaiman AS.

Allah SWT kemudian memerintahkan ikan paus, salah satu penghuni samudera yang luas untuk memenuhi undangan makan Nabi Sulaiman AS. Ikan itu pun mengangkat kepalanya dan bergerak maju ke arah makanan yang menggunung itu.

“Wahai Sulaiman, hari ini Allah menjadikan rezekiku melalui tanganmu,” kata ikan paus tersebut.

“Silakan makan,” kata Nabi Sulaiman AS yang diberi anugerah mukjizat dapat berbicara dengan hewan dan makhluk halus.

Setelah diizinkan, ikan paus itu pun melahap hidangan Nabi Sulaiman AS yang menggunung tersebut. Belum genap sekejap, ikan itu melahap semua hidangan yang disiapkan 40 hari lamanya. Ludes. Sementara itu Nabi Sulaiman AS dan pasukannya terperangah melihat ikan paus itu melahap semua persedian makanan.

“Sulaiman, kenyangkan aku. Aku masih lapar,” kata ikan paus.

“Kau belum kenyang?”

“Hingga kini aku belum kenyang,” kata ikan paus.

Nabi Sulaiman AS tidak sanggup menjawab. Ia menyerah takluk di hadapan kuasa Allah SWT. Ia duduk bersimpuh lalu bersujud.

“Subhāna man takaffala bi rizqi kulli marzūqin min haitsu lā yasy‘uru. (Mahasuci Tuhan yang menjamin rezeki semua makhluk-Nya dari jalan yang tak terpikirkan,” sembah puji Nabi Sulaiman AS sebagai pengakuan.

***

Kisah ini disarikan dari Kitab Durratun Nasihin fil Wa‘zhi wal Irsyad karya Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad As-Syakir Al-Khaubawi, [Mushtafa Al-Babi al-Halabi, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 229-230.

Kisah ini menyarankan kerendahan hati atas segala capaian, syukuran atas suatu capaian, sedekah terhadap semua makhluk baik di darat maupun di laut, kepercayaan bahwa Allah penjamin rezeki, dan juga pengakuan atas kuasa Allah SWT. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Kisah ini berawal dari kesuksesan Nabi Sulaiman AS. Nabi Sulaiman AS telah memperoleh bermacam kenikmatan duniawi. Semua tunduk di bawah perintahnya. Manusia, jin, hewan liar, aneka burung, dan bahkan angin. Ketika itu tumbuh rasa bangga di dalam hatinya.

“Tuhanku, perkenankan hamba menyediakan makan untuk semua makhluk hidup setahun penuh,” kata Nabi Sulaiman AS memohon izin kepada Allah SWT.

“Kau tak mungkin sanggup,” jawab Allah SWT.

“Kalau begitu, izinkan hamba barang sehari,” kata Nabi Sulaiman AS.

Ketika mendapat izin sehari dari Allah, Nabi Sulaiman AS memerintahkan pasukannya baik kalangan jin dan manusia untuk menyebar mendata semua makhluk yang ada di muka bumi. Ia juga meminta mereka untuk memasak dan menyiapkan hidangan selama 40 hari.

Kepada angin, Nabi Sulaiman AS memerintahkan agar tidak bergerak selama itu agar tidak menerbangkan makanan yang sedang disiapkannya untuk memberi makan sehari semua makhluk Allah di muka bumi.

Nabi Sulaiman AS meminta pasukannya untuk mengumpulkan makanan hari demi hari di sebuah padang luas. Pasukannya bekerja keras memenuhi permintaan rajanya. Sampai tiba waktunya, makanan yang disiapkan itu menggunung.

“Sulaiman, siapa duluan yang akan kau beri makan?” kata Allah SWT setelah genap 40 hari persiapan hidangan.

“Makhluk-Mu yang di darat dan di laut,” jawab Nabi Sulaiman AS.

Allah SWT kemudian memerintahkan ikan paus, salah satu penghuni samudera yang luas untuk memenuhi undangan makan Nabi Sulaiman AS. Ikan itu pun mengangkat kepalanya dan bergerak maju ke arah makanan yang menggunung itu.

“Wahai Sulaiman, hari ini Allah menjadikan rezekiku melalui tanganmu,” kata ikan paus tersebut.

“Silakan makan,” kata Nabi Sulaiman AS yang diberi anugerah mukjizat dapat berbicara dengan hewan dan makhluk halus.

Setelah diizinkan, ikan paus itu pun melahap hidangan Nabi Sulaiman AS yang menggunung tersebut. Belum genap sekejap, ikan itu melahap semua hidangan yang disiapkan 40 hari lamanya. Ludes. Sementara itu Nabi Sulaiman AS dan pasukannya terperangah melihat ikan paus itu melahap semua persedian makanan.

“Sulaiman, kenyangkan aku. Aku masih lapar,” kata ikan paus.

“Kau belum kenyang?”

“Hingga kini aku belum kenyang,” kata ikan paus.

Nabi Sulaiman AS tidak sanggup menjawab. Ia menyerah takluk di hadapan kuasa Allah SWT. Ia duduk bersimpuh lalu bersujud.

“Subhāna man takaffala bi rizqi kulli marzūqin min haitsu lā yasy‘uru. (Mahasuci Tuhan yang menjamin rezeki semua makhluk-Nya dari jalan yang tak terpikirkan,” sembah puji Nabi Sulaiman AS sebagai pengakuan.

***

Kisah ini disarikan dari Kitab Durratun Nasihin fil Wa‘zhi wal Irsyad karya Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad As-Syakir Al-Khaubawi, [Mushtafa Al-Babi al-Halabi, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 229-230.

Kisah ini menyarankan kerendahan hati atas segala capaian, syukuran atas suatu capaian, sedekah terhadap semua makhluk baik di darat maupun di laut, kepercayaan bahwa Allah penjamin rezeki, dan juga pengakuan atas kuasa Allah SWT. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/97385/cerita-nabi-sulaiman-gelar-syukuran-dan-sedekah-laut

Senin, 19 November 2018

Kisah Mereka yang Menularkan Hobi Sedekah Tiap Jumat




Menularkan kebiasaan baik, tidak harus diawali dengan kesuksesan secara materi. Seperti halnya yang dilakukan warga Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, bernama M. Alif (41). Pria ini  menyebar 'virus' sedekah lewat komunitas Sedekaholic.

Alif, seperti dikutip dari  detik.com, adalah seorang pengusaha reklame kecil-kecilan. Sudah sekitar satu tahun dia melakukan kegiatan yang dilakukan setiap Jumat pagi. Ia menyebarkan nasi bungkus plus minum , untuk orang-orang membutuhkan dan kaum dhuafa yang ditemuinya di pinggir jalan.

Seperti halnya yang dilakukan pada Jumat (7/1/2017) lalu, ketika hujan mengguyur Kota Kendal. Namun Alif tetap saja berbagi. Bersama rekannya, Eddie Prayitno, Alif berboncengan motor sambil  membawa dua kardus berisi nasi bungkus dan minuman kemasan.


Sedekaholic, Menularkan Hobi Sedekah Setiap JumatFoto: Angling Adhitya P/detikcom

Beberapa kali Alif dan Eddie mengitari kawasan sekitar Alun-alun Kota Kendal. Mereka berhenti, dan membagikan nasi bungkus itu kepada orang lain. Mulai dari petugas kebersihan, pengemis, gelandangan, pengayuh becak, hingga orang gila.

Hanya butuh waktu sekitar 15 menit, Alif tuntas membagikan puluhan nasi bungkus itu. Ia pun kembali ke rumahnya di Jalan Kenduri Krajan Kulon, Kaliwungu, Kendal. Di teras rumahnya yang sederhana, Alif bercerita soal hobinya menyalurkan sedekah setiap Jumat itu.

"Saya lupa kapan mulainya, habis Lebaran tahun 2015 kayaknya. Berdua sama teman namanya Priyatno Yuwono, teman waktu di SMP Negeri Kaliwungu. Dulunya cuma iseng ingin bancakan sama orang-orang di jalanan," kata Alif.

Alif kemudian meniatkan diri untuk rutin membagikan nasi bungkus setiap Jumat pada waktu sarapan. Kebiasaan positifnya itu menular, banyak orang tertarik ikut, bahkan penjual nasi bungkus pun kadang bersedekah berupa lauk.

"Awalnya hanya sekitar 20 nasi bungkus sama air putih gelas. Kadang bikin sendiri kadang beli, pokoknya yang layak dan sama seperti yang kita makan. Banyak yang tertarik, kadang orang warung ikut sedekah, lauknya dikasih ayam," tandas Alif.

Kegiatan yang dulu bernama Gerakan Menebar Nasi Bungkus (Gemar Menabung) itu kini makin banyak yang tertarik bergabung sehingga namanya dibuat menjadi Sedekaholic dan dibuatkan grup Facebook bernama Sedekaholic Community.

"Nama itu usulan teman-teman biar orang kecanduan untuk bersedekah," tandas Alif.

Kini Alif tidak sendiri memberikan sedekah melalui Sedekaholic. Banyak yang menitipkan sedekah dengan mengirimkan uang yang nantinya dijadikan nasi bungkus. Bahkan pos pembagian sudah bertambah. Bukan hanya di daerah Kaliwungu, tapi juga di Cepiring dan Kendal Kota.

"Sejak awal memang hari Jumat, untuk Jumat berkah," pungkasnya.

Sedekaholic, Menularkan Hobi Sedekah Setiap JumatFoto: Angling Adhitya P/detikcom

Dalam kegiatannya, Alif memang menyasar kaum dhuafa dan orang-orang yang hidupnya banyak dihabiskan di pinggir jalan. Termasuk mereka yang mengidap gangguan jiwa. Berbagai pengalaman juga sudah dia alami. Mulai dari makanan yang dibanting, hingga dikira sogokan dari calon kepala daerah.

"Dulu pas masa kampanye, ditanya nasi dari nomor urut berapa. Pernah juga sama orang gila dibanting nasi bungkusnya, tapi lama-kelamaan mereka hafal dengan saya," ujar Alif sambil tertawa.

 Sumber: https://news.detik.com/berita/d-3391913/kisah-mereka-yang-menularkan-hobi-sedekah-tiap-jumat

Kampoengrasa siap bantu menyalurkan nasi bungkus bergizi, untuk Sedekah Jum'at . Harga mulai Rp 10.000

Selasa, 13 November 2018

Kakek 92 Tahun Sedekah 150 Nasi Bungkus Tiap Jumat, Inilah Keajaiban yang Dialaminya



BANGKAPOS.COM--Mbah Asrori (92) melakukan hal luar biasa. Ia selalu membagikan 150 nasi bungkus setiap Hari Jumat lengkap dengan lauk pauknya.

Mbah Asrori mengendarai sepeda onthel tua dan menggantungkan plastik berisi nasi bungkus di sisi kanan dan kiri stang sepedanya.

Sehari-hari kesibukan Mbah Asrori adalah mengajar mengaji kepada anak-anak di sekitar rumahnya. Mbah Asrori berasal dari Semarang.

Ia membagikan nasi bungkus kepada siapa saja yang membutuhkan makanan, seperti pemulung, tukang becak, dll.

Mbah Asrori berpenghasilan Rp 800 ribu dari kerja mengajar membaca Al Qur'an. Setengah dari gajinya ia dedikasikan untuk bersedekah.

Disamping niat sedekah, Mbah Asrori juga ingin menolong ekonomi seorang janda di kampungnya dengan membeli dagangan nasi bungkus janda tersebut untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan makanan.

Dahsyatnya, sekitar lima tahu lalu, Mbah Asrori dapat berkesempatan menunaikan ibadah haji dari hasil tabungannya sendiri.

Dikutip dari akun Instagram @kisahsemangat, rasanya begitu mustahil saat seseorang dengan penghasilan kurang dari Rp 1 juta per bulan dapat berangkat ke Mekkah.

Belum lagi, Mbah Asrori menggunakan 50 persen gajinya untuk sedekah. Begitu juga bagaimana dengan biaya keperluannya sehari-hari.

"Jika ditarik dari logika sehat, hampir mustahil beliau bisa berangkat haji dengan penghasilannya yang kurang dari satu juta tiap bulan. Namun disitulah kekuasaan Allah dan hebatnya kekuatan sedekah. Mereka yang ikhlas bersedekah akan Allah ganti rezekinya di dunia dan juga di akhirat," terang akun @kisahsemangat.

Melihat postingan tersebut, netizen pun menyambut positif dengan berbagai doa untuk Mbah Asrori.

"Sungguh mulia..smga sehat dan panjang umur kakek Asrori," tulis akun @naimsiti5.

"Semoga Allah membangunkan rumah indah di syurga untukmu... Aamiin," timpal akun @adryanichan.

Seorang netizen juga berharap apa yang dilakukan oleh kakek tersebut dapat menular ke generasi muda.

"Subhanallah, kakek ini mempuyai hati yang sangat mulia, mudah2n kita generasi muda bisa terinspirasi untuk saling berbagi rezeki, krn berapapun penghasilan kita tidak membatasi amal ibadah kita," tulis @rais_pradipta.(*)

Sumber: http://bangka.tribunnews.com/2016/09/11/kakek-92-tahun-sedekah-150-nasi-bungkus-tiap-jumat-inilah-keajaiban-yang-dialaminya

Kampoengrasa siap terima pesanan nasi bungkus bergizi untuk Sedekah Jum'at. Harga mulai Rp 10.000.

Senin, 05 November 2018

Filosofi Nasi Tumpeng





Pecinta kuliner pasti tahu apa itu Nasi Tumpeng. Bagi masyarakat Jawa, Bali dan Madura, tumpeng sengaja dibuat untuk kenduri atau merayakan suatu peristiwa penting. Mulai dari perayaan kelahiran, ulang tahun dan beragam bentuk acara syukuran lainnya.

Di kalangan orang Jawa, kata Tumpeng merupakan singkatan ‘yen metu kudu mempeng’. Bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kalimat itu berarti ‘ketika keluar harus bersemangat’.

Tumpeng selalu disajikan dalam nampan besar, bulat yang terbuat dari anyaman bambu. Nasi dibentuk  kerucut dengan aneka lauk pauk pelengkap. Nasi tumpeng di kalangan masyarakat Jawa dilengkapi pitu (7) macam lauk-pauk. Angka pitu diartikan sebagai pitulungan (pertolongan).

Nasi Tumpeng konon berasal dari tradisi masyarakat kita di masa lalu. Waktu itu, masyarakat memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para hyang, atau arwah leluhur (nenek moyang). Nasi tumpeng dicetak berbentuk kerucut untuk meniru wujud gunung suci Mahameru, yang konon merupakan tempat bersemayam dewa-dewi.